Akademisi FEB UPR Dzahin Syauqi Muhammad menilai kenaikan Pertamax berpotensi memicu tekanan biaya hidup melalui cost push inflation.
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Kenaikan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dinilai tidak bisa dibaca hanya sebagai penyesuaian harga bahan bakar. Dalam perspektif ilmu ekonomi, kebijakan tersebut berpotensi memicu efek berantai terhadap biaya hidup masyarakat.
Akademisi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Palangka Raya (FEB UPR), Dzahin Syauqi Muhammad, S.Pd., M.Ak, mengatakan kenaikan harga BBM dapat menjadi pemicu tekanan inflasi dari sisi biaya atau cost push inflation.
Menurut Syauqi, inflasi tidak sekadar dimaknai sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara terus-menerus. Dalam kehidupan masyarakat, inflasi juga harus dilihat dari dampaknya terhadap daya beli, biaya produksi, dan kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Fenomena kenaikan harga bahan baku dalam ilmu ekonomi dikenal sebagai cost push inflation atau tekanan inflasi dari sisi biaya. Biaya yang dimaksud adalah bahan baku produksi. Artinya apa? Kenaikan biaya hidup tinggal menunggu waktunya saja,” kata Dzahin, Rabu (10/06/2026).
Syauqi menjelaskan, kenaikan harga Pertamax tidak hanya berdampak kepada pengguna kendaraan pribadi. Dampaknya dapat merambat ke sektor transportasi, distribusi barang, rumah tangga, hingga pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Ia mengatakan, sektor transportasi dan distribusi menjadi salah satu sektor yang paling cepat merasakan dampak kenaikan harga BBM. Pengemudi transportasi online atau ojek online, misalnya, berpotensi mengalami penurunan pendapatan bersih apabila tidak ada penyesuaian tarif.
Namun, penyesuaian tarif juga bukan tanpa risiko. Dalam konsep ekonomi, kondisi tersebut menciptakan trade-off, yakni pilihan yang sama-sama memiliki konsekuensi.
“Jika tarif ojek online dinaikkan, trade-off yang terjadi bahkan lebih berat jika dilihat dari sudut pandang konsumen. Konsumen cenderung mengurangi penggunaan jasa transportasi online,” ujarnya.
Menurut Syauqi, pada akhirnya pengemudi transportasi online tetap berpotensi terdampak. Jika tarif tidak naik, pendapatan bersih tergerus oleh biaya BBM. Namun jika tarif naik, permintaan dari konsumen bisa menurun.
“Dilihat dari sudut pandang yang berbeda sekalipun, pengemudi transportasi online secara langsung bisa diprediksi akan mengalami penurunan pendapatan akibat naiknya harga jual Pertamax,” katanya.
Kenaikan harga Pertamax juga menciptakan tekanan baru bagi rumah tangga. Masyarakat yang menggunakan kendaraan untuk aktivitas harian akan dihadapkan pada pilihan antara mempertahankan mobilitas atau mengurangi pengeluaran lain.
Syauqi menyebut kondisi ini sebagai bentuk nyata dari konsep opportunity cost dalam ilmu ekonomi. Ketika biaya transportasi meningkat, masyarakat harus mengorbankan pengeluaran lain agar mobilitas tetap berjalan.
“Ketika biaya transportasi meningkat, masyarakat harus memilih antara tetap menggunakan kendaraan dengan biaya lebih besar atau mengurangi konsumsi terhadap kebutuhan lain seperti makanan, pendidikan, hiburan, maupun tabungan,” ujarnya.
Menurutnya, kenaikan Pertamax dapat membuat ekonomi rumah tangga semakin terhimpit. Apalagi jika kenaikan biaya transportasi tidak diimbangi dengan kenaikan pendapatan.
Tekanan serupa juga dapat dirasakan pelaku UMKM, terutama sektor food and beverage atau F&B. Warung makan, kafe, dan usaha kuliner yang masih menggunakan kendaraan pribadi untuk membeli bahan baku berpotensi mengalami kenaikan biaya produksi.
Syauqi mengatakan pelaku UMKM berada dalam posisi sulit. Jika harga jual dinaikkan, konsumen yang sedang menghemat pengeluaran bisa mengurangi pembelian. Namun jika harga tidak dinaikkan, margin keuntungan pelaku usaha akan semakin tipis.
“Pelaku UMKM yang bergerak di sektor food and beverage, seperti warung makan ataupun kafe yang masih menggunakan sarana transportasi milik pribadi untuk mengangkut bahan baku, pasti akan mengalami kenaikan biaya produksi,” katanya.
Menurut Syauqi, kondisi tersebut dapat berdampak pada omzet dan laba kotor UMKM. Di satu sisi, biaya produksi naik. Di sisi lain, rumah tangga konsumen sedang menekan pengeluaran karena biaya hidup ikut meningkat.
“Di saat rumah tangga dihadapkan dengan penghematan pengeluaran, naiknya harga jual makanan dan minuman berpotensi menurunkan omzet atau penjualan serta laba kotor UMKM yang bergerak di sektor food and beverage,” ujarnya.
Syauqi menilai, mencari solusi dari setiap kejadian ekonomi tidak pernah mudah. Sebab, hampir setiap kebijakan memiliki konsekuensi atau trade-off.
Namun dalam konteks kenaikan harga Pertamax, ia menilai pemerintah perlu memperhatikan posisi rumah tangga konsumen. Menurutnya, roda ekonomi lebih banyak digerakkan oleh konsumsi rumah tangga.
Artinya, jika pendapatan masyarakat tetap terjaga, permintaan atau demand konsumen juga tetap bertahan. Sebaliknya, jika pendapatan tidak meningkat sementara biaya hidup naik, maka tekanan terhadap ekonomi masyarakat akan semakin terasa.
“Jika pendapatan atau penghasilan konsumen lebih besar, roda ekonomi akan tetap berputar karena demand dari konsumen tetap terjaga. Namun jika rumah tangga tidak mengalami kenaikan pendapatan, biaya hidup akan terasa lebih mahal,” kata Dzahin.
Pada fase tersebut, Dzahin menilai kebijakan fiskal pemerintah menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk meredam tekanan ekonomi masyarakat.
Pemerintah, kata dia, perlu merumuskan kebijakan yang mampu menjaga daya beli rumah tangga, mengendalikan harga kebutuhan pokok, dan memastikan pelaku usaha kecil tidak semakin tertekan oleh kenaikan biaya produksi.
Menurut Syauqi, kenaikan harga Pertamax harus dibaca sebagai sinyal ekonomi yang lebih luas. Bukan hanya urusan harga BBM, tetapi juga menyangkut biaya hidup, daya beli, distribusi barang, hingga keberlangsungan UMKM.
“Kenaikan biaya hidup tinggal menunggu waktunya saja jika tekanan biaya produksi dan distribusi tidak diantisipasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, kebijakan ekonomi perlu mempertimbangkan kondisi riil masyarakat. Sebab, indikator makroekonomi tidak akan berarti banyak apabila rumah tangga dan pelaku usaha kecil semakin sulit menjaga daya tahan ekonominya.