Pemadaman Listrik Bergilir Bisa Masuk Rekor MURI?
CYRUSTIMES, PALANGKA RAYA – Pemadaman listrik yang berulang di wilayah Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Kalimantan Selatan (Kalsel) atau Kalselteng mulai membuat warga jengkel. Bukan hanya karena rumah gelap, tetapi aktivitas harian ikut terganggu.
Dalam beberapa waktu terakhir, keluhan soal listrik padam ramai terdengar di masyarakat. Warga menyebut pemadaman terasa makin sering. Bahkan, ada yang menyindir kondisi ini dengan kalimat menohok: kalau terus begini, apakah pemadaman listrik di Kalselteng bisa masuk rekor MURI?
Sindiran itu tentu bukan pernyataan resmi. Namun, kalimat tersebut menggambarkan rasa kesal warga yang merasa terlalu sering berhadapan dengan listrik padam.
Bagi warga, listrik bukan sekadar lampu menyala. Listrik dipakai untuk bekerja, berdagang, belajar, menyimpan bahan makanan, hingga menjalankan usaha kecil dari rumah.
Saat listrik padam berjam-jam, dampaknya langsung terasa. Pedagang makanan khawatir stok rusak. Pelaku UMKM kehilangan waktu produksi. Warga yang bekerja dari rumah ikut terganggu. Anak-anak pun kesulitan belajar ketika pemadaman terjadi malam hari.
Pemadaman Jadi Perhatian di Kalteng dan Kalsel
Pemadaman listrik di wilayah Kalselteng mencuat sejak akhir Juni 2026. Sejumlah daerah di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah mengalami pemadaman bergilir.
Pada 22 Juni 2026, sejumlah titik di Banjarmasin mengalami pemadaman karena pemeliharaan jaringan. Pemadaman berlangsung sekitar pukul 11.00 hingga 14.00 WITA.
Pada 29 Juni 2026, wilayah Balangan dan Lampihong juga mengalami pemadaman terbatas. Pemadaman itu berkaitan dengan gangguan teknis pada komponen PLTGU yang berdampak pada pasokan daya.
Di Kalimantan Tengah, persoalan serupa turut menjadi sorotan wakil rakyat. Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Bambang Irawan, mengkritik pemadaman bergilir yang dinilai merugikan masyarakat kecil.
Ia menyoroti dampak pemadaman terhadap UMKM, usaha rumah tangga, dan peternak. Menurutnya, masyarakat seharusnya mendapat informasi yang jelas agar bisa menyiapkan langkah antisipasi.
PLN Minta Maaf, Sebut Ada Gangguan Sistem
PLN UID Kalselteng sebelumnya telah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat. Pemadaman bergilir disebut terjadi karena adanya gangguan kelistrikan di sistem Kalimantan.
Senior Manager Niaga PLN UID Kalselteng, M Arif Fikri, menyebut PLN harus melakukan manajemen beban akibat gangguan tersebut. Tim teknis juga disebut bekerja selama 24 jam untuk mempercepat pemulihan.
General Manager PLN UID Kalselteng, Iwan Soelistijono, dalam rapat bersama DPRD Kalsel pada Kamis, 2 Juli 2026, menjelaskan gangguan terjadi karena persoalan peralatan dan pembangkit.
Ia menyebut ada sekitar 11 unit pembangkit listrik swasta yang terdampak forced outage secara bergiliran. Kondisi itu membuat sistem kelistrikan Kalselteng masuk status siaga mulai 3 Juli 2026.
Status siaga tersebut disebut berlaku hingga September 2026 dan akan dievaluasi setiap dua minggu.
Warga Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Maaf
Permintaan maaf PLN memang penting. Namun bagi warga, yang lebih dibutuhkan adalah kepastian.
Kapan listrik padam. Berapa lama durasinya. Wilayah mana saja yang terdampak. Apa penyebab gangguan. Kapan kondisi benar-benar kembali normal.
Pertanyaan-pertanyaan itu kerap muncul setiap kali listrik padam. Masalahnya, informasi di lapangan sering terasa lambat atau tidak sampai ke semua warga.
Akibatnya, masyarakat hanya bisa menebak-nebak. Ada yang buru-buru mengisi daya ponsel. Ada yang memindahkan bahan makanan. Ada pula pedagang yang memilih menutup usaha lebih cepat karena takut rugi.
Situasi seperti ini membuat kepercayaan publik ikut terganggu. Apalagi listrik merupakan layanan dasar yang dibayar pelanggan setiap bulan.
Sindiran MURI Jadi Alarm
Soal sindiran masuk rekor MURI, tentu hal itu tidak bisa dimaknai secara harfiah. MURI memiliki mekanisme pencatatan sendiri, termasuk syarat data, bukti, dan verifikasi.
Namun, sindiran warga tetap penting untuk dibaca. Itu bukan sekadar lelucon. Itu bentuk protes.
Warga ingin pelayanan listrik lebih stabil. Warga juga ingin PLN lebih terbuka saat terjadi gangguan. Jika memang sistem sedang siaga hingga September, publik perlu mendapat informasi yang lebih terang.
Sebab, pemadaman yang terjadi berulang tidak hanya membuat rumah gelap. Ia ikut mengganggu dapur, usaha, pekerjaan, hingga rasa aman masyarakat.
Pada akhirnya, warga Kalselteng tidak sedang menunggu rekor pemadaman terlama. Mereka menunggu rekor pelayanan yang paling cepat pulih, paling jelas informasinya, dan paling bertanggung jawab kepada pelanggan.